“Alih-alih memarahi orang, mari berusaha memahami mereka.”
— Dale Carnegie
Pernah nggak kamu merasa kesal sama seseorang karena melakukan sesuatu yang menurutmu sebenarnya gampang diperbaiki? Teman kerja yang telat mengumpulkan tugas, pasangan yang lupa melakukan sesuatu yang sudah berkali-kali kamu ingatkan, atau mungkin teman yang mengambil keputusan yang menurutmu, “Duh, kalau gue jadi dia, nggak mungkin gue ngelakuin itu.”
Dan biasanya, respons pertama kita cukup sederhana. “Kenapa sih kamu nggak bisa lebih teliti?” atau “Kan udah dibilangin dari kemarin.” Kadang versi yang lebih halus pun tetap punya rasa yang sama, seperti, “Ya sebenarnya kalau kamu mau mikir sedikit, harusnya nggak kejadian.”
Wkwk… familiar?
Masalahnya, kita sering merasa sedang membantu orang menjadi lebih baik, padahal dari sisi orang yang menerima, yang mereka rasakan bisa sangat berbeda. Mereka mungkin tidak merasa dibantu. Mereka justru merasa diserang, direndahkan, atau dianggap tidak mampu.
Inilah salah satu hal menarik yang dibahas Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People. Dalam prinsip pertamanya, Carnegie mengajak kita menghindari kebiasaan yang bisa diringkas sebagai S.O.K: Salahkan, Omeli, Kritik. Dan kalau dipikir-pikir lagi, ini bukan sekadar teknik komunikasi.
Ini tentang bagaimana kita memperlakukan manusia.
Kenapa Kita Sering S.O.K kepada Orang Lain?
Sebenarnya, kebiasaan menyalahkan, mengomel, dan mengkritik itu manusiawi. Ketika sesuatu berjalan tidak sesuai harapan, kita ingin segera mencari penyebabnya. Kalau ada yang salah, kita ingin tahu siapa yang salah, lalu setelah ketemu orangnya, rasanya ada dorongan untuk menjelaskan betapa salahnya dia.
Apalagi kalau kita merasa sudah benar.
Nah, di sinilah masalahnya. Kita sering lupa bahwa orang lain juga punya alasan di balik tindakannya. Bukan berarti alasannya selalu benar atau kesalahannya harus dibiarkan, tetapi sebelum buru-buru menghakimi, mungkin ada baiknya kita bertanya lebih dulu: “Kenapa dia melakukan itu?”
Pertanyaan sederhana ini bisa mengubah seluruh arah percakapan.
Bayangkan ada seorang rekan kerja yang terlambat menyelesaikan pekerjaannya. Kamu bisa langsung bilang, “Kamu memang selalu begini. Kalau kerja jangan lelet.” Atau kamu bisa berhenti sebentar dan bertanya, “Ada kendala apa sampai pekerjaannya belum selesai?”
Dua kalimat tersebut membicarakan masalah yang sama, tetapi efeknya bisa sangat berbeda. Yang pertama membuat orang merasa harus membela diri. Yang kedua membuka ruang untuk memahami persoalan.
Dan ini yang menarik dari prinsip Carnegie: memahami seseorang tidak sama dengan membenarkan kesalahannya. Kamu tetap boleh mengatakan bahwa sesuatu itu keliru, tetap boleh menetapkan batas, dan tetap boleh meminta perubahan. Hanya saja, caranya tidak harus membuat orang tersebut merasa dirinya adalah masalah.
Kritik Belum Tentu Membuat Orang Berubah
Kita sering punya keyakinan bahwa kalau seseorang sadar dirinya salah, dia akan berubah. Maka kita tunjukkan kesalahannya, kita jelaskan panjang lebar, kita kasih ceramah, bahkan kadang kita ulangi kesalahan masa lalunya sebagai bukti bahwa, “Tuh kan, kamu memang dari dulu begitu.”
Masalahnya, manusia bukan mesin yang otomatis memperbaiki diri setelah menerima daftar kesalahan. Ketika seseorang merasa diserang, respons yang muncul justru bisa berupa pembelaan diri.
“Bukan salah gue.”
“Kan situ juga begitu.”
“Emang kamu nggak pernah salah?”
Dan akhirnya percakapan yang awalnya ingin menyelesaikan masalah malah berubah menjadi pertandingan mencari siapa yang paling benar.
Carnegie menekankan bahwa manusia memiliki emosi, harga diri, dan kebutuhan untuk merasa dihargai. Karena itu, pendekatan yang terlalu menghakimi dapat membuat seseorang lebih sibuk mempertahankan dirinya daripada mendengarkan pesan yang sebenarnya ingin kita sampaikan.
Coba lihat pengalamanmu sendiri. Pernah nggak ada seseorang yang menegurmu dengan cara yang membuatmu langsung berpikir, “Iya juga ya, gue harus berubah?”
Ada.
Tapi mungkin lebih sering kamu justru ingat orang yang membuatmu berpikir, “Siapa dia sampai ngomong begitu ke gue?”
Nah. Itulah bedanya antara pesan yang benar dan cara menyampaikan pesan. Pesannya bisa sama, tetapi cara menyampaikannya menentukan apakah orang akan membuka diri atau justru memasang pertahanan.
Hindari S.O.K Bukan Berarti Jadi Orang yang Selalu Mengiyakan
Nah, mungkin di sini kamu mulai berpikir, “Kalau begitu, kita nggak boleh kritik orang dong?”
Bukan begitu. Hindari S.O.K bukan berarti kamu harus menjadi orang yang selalu mengiyakan semuanya. Bukan berarti kamu harus diam ketika melihat kesalahan, dan bukan berarti kamu harus menjadi people pleaser yang takut mengatakan sesuatu karena khawatir orang lain tersinggung.
Justru sebaliknya.
Kamu tetap bisa memberikan feedback. Kamu tetap bisa mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Kamu bahkan mungkin perlu melakukan percakapan yang sulit.
Tapi coba ubah niatnya.
Apakah kamu sedang menyampaikan sesuatu supaya orang itu menjadi lebih baik, atau sebenarnya kamu sedang ingin melampiaskan kekesalanmu?
Kelihatannya mirip, tapi sebenarnya sangat berbeda. Kalau tujuanmu melampiaskan emosi, mengomel terasa memuaskan. Kamu bisa mengeluarkan semua kekesalan dan merasa lega.
Tapi kalau tujuanmu membantu, kamu akan mulai memikirkan cara agar pesanmu benar-benar bisa diterima. Kamu akan lebih banyak bertanya, lebih banyak mendengar, dan mungkin menemukan bahwa masalah yang kelihatannya sederhana ternyata punya cerita yang jauh lebih panjang.
Ada Saatnya Kita Perlu Mengingat: Kita Juga Pernah Salah
Ini mungkin bagian yang paling susah.
Kita sering mudah melihat kesalahan orang lain karena kita berdiri di luar masalahnya. Ketika orang lain terlambat, kita melihat dia tidak disiplin. Ketika orang lain gagal, kita melihat dia kurang persiapan. Ketika orang lain mengambil keputusan buruk, kita merasa keputusannya jelas-jelas salah.
Tapi ketika kita sendiri berada dalam situasi yang sama?
Ceritanya bisa berbeda.
Kita mulai punya alasan. “Waktu itu kondisinya memang lagi susah.” “Gue sebenarnya sudah berusaha.” “Gue nggak tahu bakal jadi seperti itu.”
Menarik, kan?
Kesalahan orang lain sering terlihat seperti karakter. Kesalahan kita sendiri sering terasa seperti keadaan.
Mungkin karena itulah Carnegie mengajak pembacanya untuk tidak terburu-buru mengkritik. Ada nilai penting dalam mengakui bahwa diri kita sendiri juga bisa keliru, karena sikap tersebut dapat membuat percakapan menjadi lebih terbuka dan mengurangi dorongan orang lain untuk bersikap defensif.
Jadi sebelum mengatakan, “Kok kamu bisa sebodoh itu?” mungkin lebih baik bertanya dalam hati:
“Kalau aku berada di posisinya, dengan informasi dan kondisi yang sama, apakah aku benar-benar yakin akan mengambil keputusan yang berbeda?”
Kadang jawabannya tidak sesederhana yang kita kira.
Dari “Kamu Salah” Menjadi “Gimana Kita Beresin Ini?”
Menurutku, inti dari menghindari S.O.K bukan sekadar mengganti kata-kata kasar dengan kata-kata yang lebih lembut. Lebih dalam dari itu, kita sedang mengubah cara melihat orang lain.
Dari seseorang yang harus diperbaiki, menjadi seseorang yang sedang kita coba pahami.
Misalnya ketika seorang anggota tim melakukan kesalahan. Daripada berkata, “Ini kesalahan kamu. Kan sudah saya bilang,” kamu bisa menggesernya menjadi, “Menurutmu, bagian mana yang bikin prosesnya tadi nggak berjalan sesuai rencana?”
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Tapi ada perbedaan besar di dalamnya.
Kamu tidak langsung menempatkan orang tersebut sebagai terdakwa. Kamu mengajaknya ikut melihat masalah dan mencari jalan keluar.
Dan ketika orang merasa dilibatkan, kemungkinan percakapan menjadi lebih produktif juga terbuka.
Begitu pula dalam hubungan pribadi. Kadang pasangan tidak membutuhkan ceramah panjang tentang apa yang salah dari dirinya. Kadang mereka hanya perlu merasa bahwa kamu benar-benar mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
Bukan berarti semua masalah selesai hanya dengan bicara lembut. Tentu tidak.
Tapi setidaknya, kamu tidak menambah masalah baru berupa luka karena cara berkomunikasi.
Mungkin yang Perlu Dihindari Bukan Kritiknya, Tapi Kebiasaan Menghakimi
Ada perbedaan antara memberikan feedback dan menghakimi seseorang.
Feedback berbicara tentang sesuatu yang bisa diperbaiki. Penghakiman menyerang identitas orangnya.
“Laporan ini masih banyak yang perlu diperbaiki,” berbeda dengan, “Kamu memang nggak becus bikin laporan.”
“Kamu terlambat menyerahkan tugas,” juga berbeda dengan, “Kamu memang orangnya nggak bertanggung jawab.”
Kalimat pertama masih memberikan ruang untuk perubahan. Kalimat kedua seolah-olah sudah memberikan label permanen kepada seseorang.
Dan ketika seseorang sudah merasa dirinya diberi label, dia mungkin tidak lagi mendengar isi pesanmu. Dia hanya mendengar serangan terhadap dirinya.
Karena itu, mungkin mulai sekarang kamu bisa lebih sadar ketika hendak bereaksi.
Saat ada sesuatu yang salah, jangan langsung S.O.K. Berhenti sebentar, tarik napas, lalu tanyakan:
“Apa yang sebenarnya ingin aku ubah dari situasi ini?”
Kalau jawabannya adalah ingin situasinya menjadi lebih baik, mungkin cara yang paling efektif bukan dengan membuat orang lain merasa kecil. Mungkin justru dengan membuat mereka merasa cukup aman untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya.
Karena Hubungan yang Baik Bukan Dibangun dari Siapa yang Paling Benar
Pada akhirnya, pelajaran dari Dale Carnegie tentang S.O.K terasa sederhana, tapi justru karena kesederhanaannya itu kita sering lupa.
Kita tidak harus selalu memenangkan argumen. Tidak semua kesalahan perlu langsung dikoreksi saat itu juga. Tidak setiap kekeliruan membutuhkan ceramah, dan tidak setiap orang yang melakukan kesalahan perlu dibuat sadar bahwa kita benar.
Kadang, hubungan yang jauh lebih baik justru dimulai ketika kita menahan satu kalimat yang sudah hampir keluar dari mulut.
“Kan gue udah bilang.”
Lalu menggantinya dengan,
“Gimana kalau kita cari tahu dulu apa yang terjadi?”
Mungkin kamu tidak akan langsung menjadi komunikator yang sempurna setelah membaca satu prinsip Carnegie. Tapi kamu bisa mulai dari satu hal kecil: perhatikan kapan kamu mulai menyalahkan, mengomel, atau mengkritik.
Karena bisa jadi, masalah terbesar dalam komunikasi bukan karena kita tidak tahu apa yang harus dikatakan. Melainkan karena kita terlalu cepat mengatakan sesuatu sebelum benar-benar memahami orang di hadapan kita.
Dan mungkin, sebelum sibuk memperbaiki orang lain, ada baiknya kita bertanya:
“Cara bicaraku selama ini sedang membantu mereka berubah, atau cuma membuatku merasa lebih benar?”
Pertanyaan kecil.
Tapi kalau benar-benar dijawab dengan jujur, mungkin bisa mengubah banyak hubungan.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.