“Doing well with money has a little to do with how smart you are and a lot to do with how you behave.” — Morgan Housel
Pernah nggak kamu ngerasa gaji udah naik tiap tahun, tapi dompet kok rasanya tetep tipis pas akhir bulan? Baru kemarin terima transferan, eh sekarang udah balik lagi ke mie instan langganan kosan.
Tentu akan muncul pertanyaan, “Emang kurang hemat gimana lagi sih gue? Kan udah nggak sering ngopi di mall.” Mungkin kamu mikir masalahnya ada di gaji yang kurang gede.
Padahal, kalau kita merujuk pada buku The Psychology of Money karya Morgan Housel (2020), urusan keuangan itu bukan sekadar soal seberapa jago kamu berhitung rumus matematika atau seberapa tinggi jabatan kamu di kantor. Housel menjelaskan bahwa kekayaan sejati justru dibentuk dari apa yang tidak kamu belanjakan, bukan dari apa yang kamu pamerkan ke orang lain.
Kalau kita telusuri lebih jauh, kebiasaan keuangan kita sering kali disetir oleh gengsi sosial. Di grup WhatsApp keluarga atau kolom komentar Instagram, godaan buat keliatan sukses itu tinggi banget. Mulai dari ajakan nongkrong di tempat hits, tuntutan ganti handphone tiap tahun, sampai rasa nggak enak pas nolak patungan kado nikahan temen kerja yang nggak begitu deket.
Ujung-ujungnya, tabungan mandek dan kita terjebak dalam siklus kejar setoran bulanan.
Jadi, ini bukan soal seberapa besar nominal gaji yang masuk ke rekening kamu, melainkan seberapa cerdas kamu mengendalikan ego pengeluaran.
Strategi Frugal Living di Era Inflasi yang Bikin Dompet Aman
Banyak orang salah kaprah mengartikan hidup hemat sebagai bentuk penyiksaan diri. Nggak boleh jajan sama sekali, nggak boleh nongkrong, hidup kayak pelit akut.
Padahal, strategi frugal living di era inflasi ini nggak serumit itu. Ini soal memindahkan fokus dari validasi sosial ke kebebasan finansial jangka panjang.
Coba deh lihat realitas di sekitar kita. Harga beras naik, bensin naik, biaya sewa apartemen atau kosan ikut melambung. Kalau gaya hidup kita tetep ngikutin standar pergaulan kantor yang hobi jajan boba tiap sore, keuangan pasti jebol.
Morgan Housel dalam riset dan refleksinya menekankan bahwa menabung adalah celah antara ego dan pendapatan kamu. Semakin sedikit ego yang kamu libatkan dalam pembelian, semakin besar tabungan yang bisa kamu kumpulin.
Poinnya sederhana. Kaya itu keliatan dari apa yang kita punya sekarang, tapi kekayaan (wealth) itu rahasia dari apa yang tidak keliatan.
Rasanya beda, kan, kalau kita mulai geser orientasi dari cari gengsi ke cari ketenangan batin?
Langkah Praktis Mengelola Keuangan Pribadi
Mungkin kamu mikir, “Gimana caranya mulai nerapin ini tanpa keliatan pelit di mata temen-temen?” Tenang, kita bisa mulai dari langkah kecil yang nggak bikin stres.
- Tahan keinginan buat langsung beli barang impian pas dapet bonus atau kenaikan gaji, dan tunggu minimal 3 hari sebelum benar-benar checkout dari keranjang belanja online kamu.
- Catat semua pengeluaran sekecil apapun, termasuk uang parkir dan es teh manis di warteg langganan, supaya kamu sadar ke mana aja uangmu selama ini pergi.
- Pisahkan rekening tabungan di awal bulan begitu gaji masuk, bukan nunggu sisa di akhir bulan yang biasanya udah nol besar.
- Kurangi frekuensi nongkrong yang sifatnya cuma buat konten media sosial, dan ganti dengan ngobrol santai di rumah atau kantor yang minim biaya.
- Evaluasi langganan digital bulanan kamu, mulai dari layanan streaming film sampai aplikasi musik yang jarang banget dipakai.
Menjaga kestabilan finansial memang butuh latihan mental yang nggak sebentar. Kalau kamu pengen ngobrolin lebih banyak soal pengembangan diri dan strategi bertahan hidup di dunia profesional, coba mampir dan tonton insight menarik lainnya di channel YouTube saya, atau yuk terhubung langsung biar kita bisa diskusi santai di profil LinkedIn saya.
Kekayaan sejati dibeli dengan ketenangan pikiran yang tidak bisa ditukar oleh barang mewah apapun.
