Kadang saya bertanya-tanya sendiri. Kenapa ada orang yang hidupnya penuh harapan, sementara ada orang lain yang hidupnya penuh keluhan — padahal mereka tinggal di kota yang sama, menghirup udara yang sama, menghadapi kenaikan harga yang sama, dan punya masalah yang kurang lebih serupa?
Tapi yang satu melihat peluang, yang satu melihat kesulitan. Yang satu melihat alasan untuk bergerak, yang satu melihat alasan untuk berhenti.
Di situ saya mulai sadar bahwa masalah terbesar manusia seringkali bukan apa yang terjadi padanya, tapi bagaimana dia merespons apa yang terjadi padanya. Karena hidup itu sebenarnya netral. Dunia tidak datang dengan label “baik” atau “buruk” yang sudah dicetak dari sana. Kitalah yang memberi makna. Dan hidup kita seringkali bukan ditentukan oleh keadaan yang kita hadapi, tapi oleh apa yang kita izinkan masuk ke dalam pikiran kita.
Sebelum lanjut membaca, yuk tonton dulu video terbaru saya — siapa tahu bermanfaat buatmu juga! 👇
Bayangkan sebuah kapal di tengah lautan. Air ada di mana-mana. Badai bisa datang kapan saja. Ombak bisa menghantam berkali-kali. Tapi selama air tidak masuk ke dalam kapal, kapal itu akan tetap berlayar. Begitu juga hidup kita.
Masalah tidak akan menjadi penyebab utama kehancuran kita. Karena semua orang punya masalah. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang hidup tanpa badai. Tidak ada rumah tangga tanpa konflik. Tidak ada bisnis tanpa kerugian. Tidak ada karier tanpa tekanan. Tidak ada kehidupan tanpa ujian. Setiap masalah itu normal. Badai itu normal.
Kita gagal bukan karena masalahnya. Kita gagal karena cara kita merespons masalah itu. Kita gagal karena kita mulai meremehkan diri sendiri. Kita gagal karena kita terlalu lama menyimpan dan mengulang-ulang omongan orang lain yang berkata bahwa kita tidak mampu.
Bayangkan seseorang berkata kepadamu, “Kamu tidak akan berhasil.” Kalimat itu awalnya hanya sekadar suara. Hanya omongan orang, tidak lebih dari itu. Tapi begitu kamu mempercayainya, begitu kamu menyimpannya, dan begitu kamu mengulang-ulang kalimat itu di dalam kepalamu sendiri — kalimat itu berubah menjadi keyakinan. Dan keyakinan itulah yang akhirnya menentukan tindakanmu.
Lama-lama kamu mulai takut mencoba. Takut gagal. Takut memulai. Takut melangkah. Bukan karena kenyataannya memang seperti itu, tapi karena pikiranmu sudah duluan menyerah sebelum kamu mencoba.
Itulah mengapa saya selalu percaya bahwa musuh terbesar manusia seringkali bukan orang lain, tapi isi kepalanya sendiri. Banyak orang sibuk melawan dunia, padahal yang harus dia kalahkan terlebih dahulu adalah dirinya sendiri. Karena ketika pikirannya sudah kalah, kesempatan sebesar apapun tidak akan berguna — peluang apapun akan lewat begitu saja tanpa bisa ditangkap. Tapi ketika pikirannya masih kuat dan masih berdiri, peluang sekecil apapun bisa menjadi jalan menuju keberhasilan.
Itulah yang menjelaskan kenapa orang-orang yang mulai dari titik yang sama bisa berakhir di tempat yang sangat berbeda. Yang satu bangkit, yang satu menyerah. Yang satu bertumbuh, yang satu tenggelam. Keadaannya sama. Yang berbeda adalah apa yang mereka simpan dan pelihara di dalam pikiran mereka.
Ketika seseorang menyimpan kalimat-kalimat seperti “saya bisa”, “saya mau belajar”, “saya belum berhasil tapi saya akan terus mencoba” — orang itu sedang menanam benih yang tepat. Tapi ada juga orang yang tanpa sadar menyimpan program yang berbeda di kepalanya: “saya belum beruntung”, “hidup itu tidak adil”, “orang lain lebih beruntung dari saya”, “saya memang tidak berbakat dari dulu”. Kalimat-kalimat itu akan menjadi program yang mengendalikan hidupnya — bahkan seumur hidup, kalau tidak segera diubah.
Coba perhatikan. Kalau hari ini kamu membuka konten tentang sepak bola, besok akan muncul lagi konten sepak bola. Kamu tonton sampai habis, muncul lagi, muncul lagi. Kalau kamu suka politik, feed-mu akan dipenuhi politik. Kalau kamu cari sesuatu di marketplace, iklan produk itu akan mengikutimu ke mana-mana. Seolah-olah internet tahu apa yang kamu pikirkan. Padahal sistemnya hanya mengikuti apa yang kamu cari, apa yang kamu sukai, dan apa yang kamu klik. Begitu juga dengan kehidupan.
Orang yang senang mencari alasan untuk bersyukur akan menemukan banyak alasan untuk bersyukur. Orang yang senang mencari kebaikan akan ditemukan dengan kebaikan-kebaikan lagi. Orang yang suka belajar akan bertemu dengan kesempatan-kesempatan untuk belajar. Kenapa? Karena fokusnya ke sana, perhatiannya ke sana, dan pikirannya ke sana.
Sebaliknya, orang yang suka mencari kesalahan akan menemukan banyak kesalahan. Orang yang gemar mengeluh akan selalu menemukan alasan baru untuk mengeluh. Orang yang suka curiga akan menemukan musuh di mana-mana — bahkan sebelum keluar rumah pun sudah ketemu musuhnya. Bukan dunia yang berubah. Yang berubah hanya fokusnya.
Maka hati-hati dengan fokus. Karena fokus menentukan pengalaman hidupmu. Pengalaman hidupmu membentuk keyakinanmu. Dan keyakinanmu menentukan masa depanmu.
Itulah mengapa saya sering heran melihat orang yang setiap hari mengonsumsi berita-berita buruk, konten negatif, gosip, dan drama — lalu bertanya dalam hati kenapa hidupnya dipenuhi kecemasan. Jawabannya sederhana: karena itu yang setiap hari dimasukkan ke dalam pikirannya.
Maka jagalah apa yang masuk ke dalam pikiranmu. Jaga apa yang kamu dengar. Jaga apa yang kamu tonton. Jaga siapa yang kamu biarkan mempengaruhi cara pandangmu tentang dirimu sendiri dan tentang dunia. Karena semua itu, pelan-pelan, akan membentuk siapa dirimu.
Tapi ada satu hal yang saya rasa lebih penting dari semua itu. Dalam seluruh algoritma kehidupan ini, kita sering lupa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari kemampuan kita untuk memahami segalanya.
Ketika kapal kehidupan kita berlayar, kita sering merasa menjadi kaptennya. Merasa paling tahu arah, paling tahu tujuan. Tapi ketika badai datang, kita panik. Ketika ombak muncul, kita ketakutan. Ketika arah berubah, kita marah. Padahal dari awal, kita memang bukan pemilik lautan ini.
Ada yang melihat ujung perjalanan ketika kita hanya bisa melihat beberapa meter ke depan. Ada yang mengetahui alasan di balik setiap penundaan. Ada yang memahami hikmah dari setiap kehilangan. Ada yang tahu kenapa pintu tertentu ditutup dan pintu lainnya dibuka di waktu yang tidak kita duga.
Mungkin hari ini ada doa yang belum terkabul. Mungkin ada usaha yang belum berhasil. Mungkin ada rencana yang berantakan, ada harapan yang belum menjadi kenyataan. Tapi itu bukan berarti kamu ditinggalkan. Bisa jadi itulah cara kamu diarahkan menuju pelabuhan yang jauh lebih baik dari yang kamu bayangkan.
Tugasmu sederhana: perbaiki pikiranmu, jaga apa yang masuk ke dalam hatimu, cari yang baik-baik, lihat yang baik-baik, pikirkan yang baik-baik, dan lakukan yang baik-baik. Setelah itu, percayakan hasilnya.
Jadi kalau hidupmu hari ini terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan atau orang-orang di sekitarmu. Coba lihat ke dalam dulu. Apakah ada air yang sudah mulai masuk ke kapalmu? Apakah ada ketakutan yang terlalu lama kamu pelihara? Apakah ada perkataan orang lain yang sudah terlalu lama kamu percayai dan kamu ulang-ulang di kepalamu sendiri?
“Karena mungkin yang menjatuhkanmu bukan badai dari luar. Mungkin itu adalah sesuatu yang sudah terlalu lama dibiarkan tinggal di dalam.”
Dan ketika bagian dalammu berhasil kamu jaga, percayalah — badai akan tetap ada, ombak akan tetap datang, tapi kapalmu akan tetap berlayar. Sampai akhirnya tiba di tujuan yang memang sudah disiapkan untukmu sejak awal.
Semoga bermanfaat 🙏
GADAI - Harga Sebuah Kehormatan
Sebuah novel tentang luka Sandwich Generation yang harus memilih untuk menyelamatkan orang tua atau memberi makan anak istri.
Rp 147.000 -26%
Rp 109.000
Sudah punya akun? Login di sini
Untuk login ke member area setelah pembayaran.
Transfer Manual
Transfer Otomatis
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.