Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Kadang hidup terasa berat bukan karena masalahnya memang sebesar itu. Tapi karena kita terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita pikul.
Coba jujur sejenak. Berapa banyak energimu yang habis bukan karena kerja keras, tapi karena overthinking? Mikirin omongan orang, mikirin penilaian orang, memutar ulang kejadian masa lalu, bahkan mengkhawatirkan hal-hal yang belum pernah terjadi — dan mungkin tidak akan pernah terjadi. Dan anehnya, semakin kamu peduli pada hal-hal itu, kamu semakin capek.
Masalahnya, kita terlalu merasa diri ini adalah pusat perhatian semua orang. Padahal orang lain juga sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Sebelum lanjut membaca, yuk tonton dulu video terbaru saya — siapa tahu bermanfaat buatmu juga! 👇
Ini yang paling sering membuat hidup terasa berat, dan paling sulit dilepaskan karena kita sudah terbiasa dengan itu sejak kecil. Sejak kecil kita diajarkan untuk menjaga nama baik, untuk tidak membuat malu keluarga, untuk memperhatikan apa kata tetangga. Sampai akhirnya kita tumbuh menjadi orang dewasa yang setiap keputusannya dibayang-bayangi oleh komentar orang lain.
Ketika kamu mau mulai usaha, ada suara-suara yang bilang sok-sokan. Ketika kamu mau berubah atau berhijrah, ada yang bilang aneh. Akhirnya kamu mentok, tidak jadi apa-apa — bukan karena tidak mampu, tapi karena terlalu sibuk mempertimbangkan pendapat orang yang bahkan tidak akan menanggung konsekuensi dari keputusanmu.
Hidup bukan soal membuat semua orang suka padamu. Hidup adalah tentang bagaimana kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa harus minta izin kepada siapapun. Dan begitu kamu benar-benar melepaskan kebutuhan untuk disetujui oleh semua orang, kamu akan merasakan kebebasan yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.
Banyak orang yang fisiknya ada di masa sekarang, tapi pikirannya masih terjebak jauh di belakang. Kesalahan lama diulang-ulang di kepala. Penyesalan diputar terus seperti kaset yang rusak. “Harusnya dulu saya begini. Harusnya dulu saya memilih yang itu…”
Yang membuat ini berbahaya bukan sekadar karena menguras energi — tapi karena setiap kali kamu mengingat ulang masa lalu, kamu sedang meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu adalah orang yang penuh dengan kesalahan. Dan keyakinan itu pelan-pelan membentuk cara kamu melihat dirimu hari ini.
Karena selama kamu terus melihat ke belakang, kamu tidak akan pernah benar-benar melihat peluang yang ada di depanmu.
Pilih cara akses yang paling cocok buat kamu.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.