Kota Bandung, Jawa Barat
Masuk
Pengembangan Diri

Cara Memberikan Penghargaan yang Jujur dan Tulus untuk Rekan Kerja

Rekan kerja saling memberikan apresiasi dengan tulus di kantor yang modern

Kamu mungkin sering melihat rekan kerja yang bekerja sampai larut malam. Datang paling pagi. Membereskan laporan rumit yang bikin pusing satu divisi. Tapi hari berganti hari, tidak ada satu patah kata pun ucapan terima kasih yang mampir ke meja mereka.

Diam-diam, motivasi mereka mulai meredup.

Masalahnya, banyak dari kita menganggap gaji bulanan sudah cukup untuk membayar semua itu. Padahal, uang memang menukar waktu dengan angka di rekening. Tapi uang tidak pernah bisa membeli rasa dihargai sebagai manusia.

Memberikan penghargaan yang jujur dan tulus kepada orang lain bukan cuma soal basa-basi manis di kantor. Ini tentang melihat kehadiran seseorang dan mengakui usahanya secara nyata. Tanpa pamrih, tanpa udang di balik batu.

 

Kenapa Pujian Sering Terasa Hambar?

Seorang profesional sedang berpikir serius di depan laptop di kantor
Pujian yang tidak tulus justru akan terasa hambar dan mudah ditebak.

Pernah nggak kamu dipuji seseorang, tapi rasanya malah janggal? Kalimatnya terdengar terlalu diada-adadakan. Senyumnya tidak sampai ke mata. Atau isinya terasa seperti sedang mencari muka.

Itu terjadi karena pujian tersebut palsu.

Manusia punya radar yang sangat peka untuk mendeteksi ketulusan. Ketika seseorang memuji hanya demi melancarkan kepentingan pribadinya, orang lain langsung tahu. Alih-alih merasa senang, mereka justru akan menutup diri.

Penghargaan yang tulus itu spesifik. Kamu tidak bilang, kamu hebat banget secara umum kepada seseorang. Kamu justru mendetailkan apa yang membuat pekerjaannya patut diacungi jempol.

Misalnya, cara kamu merapikan data tadi pagi bikin presentasi klien jadi jauh lebih mulus. Terima kasih ya, itu sangat membantu tim kita.

Perbedaannya langsung terasa, kan?

 

Kesalahan Umum Saat Ingin Mengapresiasi Orang Lain

Niatnya ingin memuji, tapi malah bikin situasi jadi canggung. Ini kejadian yang cukup sering ditemui di lingkungan profesional.

Pertama, memuji tapi langsung disambung dengan kritik. Contohnya, analisis kamu bagus banget hari ini, tapi sayangnya font yang dipakai agak berantakan. Kata tapi di tengah kalimat itu langsung menghapus seluruh apresiasi yang baru saja kamu sampaikan. Orang itu hanya akan mengingat kritiknya saja.

Kedua, memuji di depan umum padahal orangnya tipe pemalu. Tidak semua orang suka jadi pusat perhatian. Buat sebagian orang, diapresiasi di depan satu ruangan justru mendatangkan stres baru.

Ketiga, memuji karena ada maunya saja. Kamu baru memuji rekan kerja setinggi langit ketika kamu butuh bantuannya untuk lembur akhir pekan.

 

Cara Praktis Memberikan Penghargaan yang Jujur

Dua rekan kerja berdiskusi positif di kantor yang terang
Apresiasi yang spesifik membuat orang merasa usahanya benar-benar dilihat.

Mengapresiasi orang lain tidak perlu menunggu momen tahunan atau pencapaian besar yang mengubah perusahaan. Justru hal-hal kecil sehari-hari yang sering luput dari perhatian.

Mulailah dengan mengamati detail kecil. Saat rekan kerjamu berhasil memimpin meeting dengan tenang di tengah situasi genting, catat itu. Sampaikan secara langsung sesudahnya.

Gunakan rumus sederhana ini. Sebutkan apa tindakan spesifik yang mereka lakukan, lalu jelaskan dampak positif tindakan itu buat kamu atau tim.

Kalau kamu seorang atasan, kebiasaan ini bahkan bisa mencegah masalah besar seperti yang dibahas dalam artikel tentang cara mencegah silent quitting pada karyawan high performer sebelum terlambat. Karyawan berprestasi sering kali memilih pergi bukan karena gaji kurang, tetapi karena merasa kontribusinya tidak pernah dilihat.

 

Menghargai Tanpa Kehilangan Wibawa

Sebagian orang takut memuji karena mengira itu akan menurunkan wibawa mereka sebagai atasan atau senior. Ada ketakutan kalau bawahan nanti jadi besar kepala atau semena-mena.

Padahal faktanya justru sebaliknya.

Pemimpin yang pelit pujian biasanya ditakuti, bukan dihormati. Sebaliknya, pemimpin yang murah memberikan penghargaan jujur justru membangun loyalitas yang kuat. Anggota tim tahu bahwa kerja keras mereka tidak lewat begitu saja di mata bosnya.

Penghargaan yang tulus tidak membuatmu terlihat lemah. Itu justru menunjukkan bahwa kamu punya kebesaran hati untuk melihat kehebatan orang lain tanpa merasa terancam.

Kalau kamu sedang memimpin tim baru, kebiasaan ini akan sangat membantu proses transisi. Kamu bisa membaca ulasan mendalam mengenai transisi staf teknis jadi manajer cara hindari micromanaging agar tahu bagaimana membangun hubungan yang sehat dengan tim tanpa harus mengontrol setiap detail kecil pekerjaan mereka.

 

Mulai dari Lingkungan Terdekatmu

Dua profesional saling bersalaman dengan senyum tulus di kantor
Mulailah memberikan apresiasi nyata dari orang-orang terdekat di sekitarmu.

Memberikan apresiasi adalah otot. Semakin sering dilatih, semakin natural ia keluar dari dirimu.

Hari ini, coba cari satu orang di sekitarmu. Bisa rekan kerja, bawahan, atau bahkan atasanmu. Perhatikan apa hal baik yang mereka lakukan, lalu sampaikan penghargaan itu secara jujur.

Lihat bagaimana ekspresi wajah mereka berubah. Perhatikan bagaimana suasana mendadak menjadi lebih hangat.

Kalau kamu suka berdiskusi soal dinamika tempat kerja dan pengembangan diri seperti ini, coba mampir sesekali ke channel YouTube saya untuk nonton video-video insight lainnya. Kamu juga bisa terhubung langsung dengan saya lewat profil LinkedIn saya biar kita bisa terus ngobrol dan bertukar pikiran.

Tulisan baru langsung ke inbox-mu

Sesekali saya kirim ringkasan tulisan terbaru dan catatan yang tidak saya publikasikan di blog. Tanpa spam, janji.