Victor Frankl pernah mengatakan sesuatu yang sampai sekarang saya tidak bisa melupakannya. Bahwa ketika segalanya direngut dari seorang manusia, masih ada satu hal yang tidak bisa diambil darinya — kebebasan untuk memilih sikap.
Dan yang membuat kalimat itu begitu berat sekaligus begitu kuat adalah fakta bahwa Frankl tidak mengatakannya dari balik meja seminar. Dia mengatakannya sebagai seseorang yang kehilangan keluarga, kehilangan kebebasan, kehilangan harga diri. Seseorang yang benar-benar pernah berada di titik di mana hampir tidak ada yang tersisa. Namun dari sana, justru dari tempat yang paling gelap itu, dia menemukan satu kebenaran penting: hidup memang bisa merengut banyak hal, tapi tidak pernah bisa memaksa kita untuk bereaksi sembarangan.
Kenyataannya, kita semua akan jatuh. Rencana yang sudah disusun rapi bisa runtuh dalam sekejap. Harapan yang dijaga bertahun-tahun bisa patah hanya dalam satu kejadian. Dan di fase seperti itu, hidup tidak lagi menanyakan seberapa besar mimpimu. Hidup menanyakan seberapa dewasa kamu menyikapinya.
Kalau kamu perhatikan orang-orang yang terlihat paling kuat, mereka bukan orang yang hidupnya selalu mulus. Justru sebaliknya — mereka adalah orang-orang yang hidupnya penuh dengan tikungan tajam, penuh kegagalan, penuh penolakan, jatuh bangun berulang kali. Bedanya hanya satu, tapi sangat krusial: mereka tidak pernah berhenti.
Sebelum lanjut membaca, yuk tonton dulu video terbaru saya — siapa tahu bermanfaat buatmu juga! 👇
Hal pertama yang dilakukan orang-orang kuat saat hidup sedang jatuh adalah — mereka tidak pura-pura kuat. Mereka tidak buru-buru menenangkan semua orang dengan kalimat “aku baik-baik saja kok” padahal di dalam hatinya sedang hancur. Mereka jujur pada diri sendiri. Mereka mengakui bahwa hidup memang sedang berat. Dan itu bukan kelemahan — itu justru sebuah kedewasaan.
Karena selama seseorang menyangkal kenyataan, pikirannya akan terus kabur. Energinya habis hanya untuk menolak dan melawan kondisi yang sudah terjadi — bukan untuk mencari jalan keluar. Coba bayangkan seseorang yang kakinya terluka tapi bersikeras bahwa tidak ada apa-apa. Dia tidak akan ke dokter, tidak akan merawat lukanya, dan luka itu akan semakin parah. Menerima kenyataan adalah langkah pertama untuk bisa berpikir jernih.
Dari satu pertanyaan itulah segalanya bisa mulai bergerak.
Saat hidup terasa tidak adil, reaksi paling umum adalah panik dan langsung berusaha mengubah segalanya sekaligus. Ganti pekerjaan, putus dari hubungan, pindah kota, mulai bisnis baru — semua dilakukan tergesa-gesa. Dan sering kali, keputusan yang diambil dalam kondisi seperti itu justru memperburuk keadaan.
Orang cerdas tahu bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan sekaligus. Dan yang pertama harus dibereskan bukan kondisi luarnya, tapi kondisi di dalam kepalanya dulu. Karena pikiran yang kacau akan melahirkan emosi yang liar. Dan emosi yang liar akan menghasilkan keputusan yang salah — hampir setiap saat.
Dalam pikiran yang lebih tertata, emosi akan ikut stabil. Bukan berarti tidak sedih, bukan berarti tidak takut — tapi tidak membiarkan ketakutan itu memimpin sepenuhnya. Dan dari kestabilan itulah, keputusan-keputusan yang bijak baru bisa lahir.
Akses Semua Artikel Premium
Pilih cara akses yang paling cocok buat kamu.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.